Bombana, mediasebangsa.com — Gelombang kritik keras terhadap pelayanan kesehatan kembali mencuat. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Konstruksi Bangunan Gedung (TRKBG), Maikel Andrestein G, melayangkan ultimatum tegas kepada pemerintah daerah dan dinas kesehatan terkait buruknya pelayanan di Puskesmas Rarowatu.

Ultimatum tersebut muncul setelah insiden absennya tenaga medis saat seorang pasien dalam kondisi darurat membutuhkan pertolongan pertama. Peristiwa ini dinilai sebagai bentuk kelalaian serius yang membahayakan keselamatan masyarakat.

“Kami berbicara berdasarkan fakta di lapangan. Ini bukan kejadian pertama. Keluhan masyarakat terkait kelalaian petugas kesehatan di Puskesmas Rarowatu sudah sering kami dengar. Artinya, ada pembiaran yang terus terjadi tanpa penyelesaian,” tegas Maikel pada wartawan saat dikonfirmasi, kamis (3/4/25).

Ia menilai persoalan ini tidak berdiri sendiri, melainkan mencerminkan lemahnya pengawasan serta buruknya manajemen pelayanan kesehatan di tingkat puskesmas. Kondisi tersebut, kata dia, telah merugikan masyarakat secara langsung dan tidak bisa lagi ditoleransi.

Foto (Pasien terlantat) yang terbaring di Puskesmas Rarowatu dan hanya didampingi keluarga tanpa pemanganan dari tenaga kesehatan

“Ketika fasilitas kesehatan tidak mampu memberikan pelayanan dasar, maka itu adalah kegagalan kepemimpinan. Ini menyangkut tanggung jawab moral dan profesional,” lanjutnya.

Sebagai bentuk tekanan, Maikel secara resmi memberikan batas waktu 3×24 jam kepada pemerintah daerah dan dinas kesehatan untuk segera mencopot Kepala Puskesmas Rarowatu.

“Saya memberikan ultimatum 3×24 jam untuk segera mencopot Kepala Puskesmas Rarowatu. Ini adalah bentuk pertanggungjawaban yang harus ditegakkan,” ujarnya dengan nada tegas.

Ia juga memperingatkan, jika tuntutan tersebut tidak direspons dalam waktu yang telah ditentukan, pihaknya akan menggelar aksi demonstrasi sebagai bentuk perlawanan terhadap buruknya pelayanan kesehatan.

“Jika tidak ada langkah konkret, kami akan turun ke jalan. Ini bukan sekadar protes, tetapi suara masyarakat yang selama ini merasa diabaikan,” tambahnya.

Maikel menegaskan bahwa gerakan yang mereka bangun bukan untuk kepentingan kelompok semata, melainkan sebagai upaya memperjuangkan hak dasar masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak.

“Kami berdiri membawa suara masyarakat. Ini perjuangan untuk hak dasar yang tidak boleh diabaikan,” tutupnya.

Laporan : Rizki Mapatarani