LOMBOK TENGAH, Mediasebangsa.com — Polemik mengenai besaran anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan Ramadan menjadi perbincangan di media sosial. Menanggapi hal tersebut, Koordinator Kecamatan (Korcam) Praya yang juga Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Praya Bunut Baok, Lombok Tengah, Ahmad Wilyan Pratama, memaparkan struktur pembiayaan program tersebut.
Menurut Ahmad Wilyan, anggaran MBG yang berkisar Rp13.000 hingga Rp15.000 per porsi tidak seluruhnya digunakan untuk pembelian bahan makanan. Anggaran tersebut telah dibagi ke dalam beberapa komponen sesuai dengan petunjuk teknis dari Badan Gizi Nasional (BGN).
“Masih ada anggapan bahwa Rp15.000 itu semuanya untuk bahan makanan. Padahal di dalamnya juga terdapat biaya operasional dan dukungan fasilitas agar layanan MBG bisa berjalan dengan baik,” kata Ahmad, Selasa (10/3).
Ia menjelaskan, alokasi bahan makanan bagi penerima manfaat dari PAUD atau TK hingga siswa SD kelas III sebesar Rp8.000 per porsi. Sementara untuk siswa SD kelas IV hingga tingkat SMP dan SMA, alokasi bahan pangan dapat mencapai Rp10.000 per porsi.
Adapun sisa anggaran sekitar Rp3.000 per porsi digunakan untuk kebutuhan operasional. Komponen ini meliputi insentif relawan, insentif penanggung jawab di sekolah, kader posyandu, pembelian alat pelindung diri (APD), hingga kebutuhan dapur seperti gas, listrik, air, alat tulis kantor, dan biaya distribusi makanan.
Selain itu, terdapat alokasi sekitar Rp2.000 per porsi yang diperuntukkan bagi insentif fasilitas dan mitra pelaksana. Dana ini digunakan untuk mendukung ketersediaan sarana dan prasarana dapur SPPG, termasuk perawatan serta perbaikan jika terjadi kerusakan pada bangunan maupun peralatan.
Menurut Ahmad, jika satu dapur SPPG melayani sekitar 3.000 penerima manfaat, maka insentif fasilitas yang diterima dapat mencapai sekitar Rp6 juta. Dana tersebut menjadi tanggung jawab mitra pelaksana untuk memastikan seluruh fasilitas dapur tetap dalam kondisi layak digunakan.
Di sisi lain, Ahmad mengakui pelaksanaan program selama Ramadan juga menghadapi tantangan, terutama terkait kenaikan harga sejumlah bahan pokok di pasar.
“Selama Ramadan harga beberapa bahan pangan di pasar mengalami kenaikan. Kondisi ini tentu menjadi tantangan bagi tim SPPG dalam menyusun menu agar tetap sesuai dengan standar gizi dan anggaran yang tersedia,” ujarnya.
Ia juga menyoroti adanya perbandingan menu MBG antar daerah yang sering muncul di media sosial. Menurutnya, kondisi harga bahan pangan di setiap wilayah tidak selalu sama sehingga dapat memengaruhi komposisi menu yang disajikan.
Meski demikian, Ahmad menegaskan bahwa kualitas gizi tetap menjadi prioritas dalam pelaksanaan program MBG. Setiap menu yang disiapkan telah melalui perhitungan tenaga ahli gizi untuk memastikan kandungan nutrisi tetap sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat.
“Setiap menu tetap dihitung oleh ahli gizi sebelum didistribusikan. Penyesuaian yang dilakukan tetap mengacu pada prinsip gizi seimbang sesuai kebutuhan energi, protein, lemak, dan karbohidrat bagi setiap kelompok usia,” katanya.
Ia pun mengajak masyarakat untuk memahami mekanisme pelaksanaan MBG secara menyeluruh berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional.
“Kami terbuka terhadap kritik dan masukan. Namun kami juga berharap masyarakat memahami mekanisme dan aturan program ini agar tidak terjadi kesalahpahaman,” ujarnya.
Reporter : Fikran

Tinggalkan Balasan