Makassar, mediasebangsa.com — Dari lintasan lokal hingga panggung nasional, nama Raja Permata kian diperhitungkan sebagai salah satu kuda pacu potensial asal Makassar. Kuda milik Lelong Azis ini tak hanya konsisten mencetak prestasi, tetapi juga menjadi simbol kekuatan kuda kampung yang mampu bersaing di level elite.
Memiliki nama Raja, sepertinya kuda yang satu ini benar-benar akan merajai kanca nasional dalam lintasan pacu pada kelasnya. Terbukti, Di ajang Jateng Derby di Jawa Tengah, Raja Permata berhasil menembus Juara 4 di tengah persaingan ketat. Lalu meraih Juara 1 pada pacuan kuda Kampung Ambal, Kebumen. Sementara pada Triple Crown Seri 1 di Bantul, Yogyakarta, Raja Permata kembali menunjukkan kualitasnya dengan finis di posisi Juara 3.

Kesuksesan ini tak lepas dari peran pelatih Arya yang meramu strategi serta kepiawaian joki Ferdy dalam mengendalikan ritme lomba. Kombinasi keduanya mampu memaksimalkan potensi Raja Permata di setiap lintasan.
Sebelumnya, saat masih berlaga di Sulawesi Selatan, Raja Permata dikenal sebagai kuda tangguh di kelas kuda kampung dengan torehan sekitar 10 kemenangan, menjadi bukti konsistensi dan daya saingnya sejak level lokal.
Namun di balik deretan prestasi tersebut, terdapat ironi yang mencuat. Hingga kini, Raja Permata disebut belum mendapatkan dukungan dari Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PORDASI) Sulawesi Selatan, yang merupakan induk organisasi olahraga berkuda di daerah.
Padahal, secara struktural, Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia memiliki peran strategis dalam pembinaan atlet, termasuk kuda pacu, melalui penyelenggaraan kejuaraan, pembinaan prestasi, serta fasilitasi pengembangan di tingkat daerah hingga nasional. Dukungan tersebut umumnya mencakup pembinaan teknis, akses kompetisi, hingga penguatan kapasitas pelaku olahraga berkuda.
Kondisi ini memunculkan harapan dari berbagai pihak agar perhatian lebih dapat diberikan kepada kuda-kuda berprestasi daerah seperti Raja Permata. Dengan rekam jejak yang terus menanjak, dukungan institusional dinilai dapat menjadi faktor penting untuk mendorong prestasi ke level yang lebih tinggi.
Raja Permata kini bukan sekadar kuda pacu, melainkan representasi potensi daerah yang telah membuktikan diri di lintasan nasional—meski melaju tanpa sokongan penuh dari induk organisasi.
Laporan : Fikran

Tinggalkan Balasan