BURANGASI, mediasebangsa.com – Gelombang penolakan datang dari pemuda, mahasiswa, dan masyarakat etnis Burangasi, Kecamatan Lapandewa, menyusul hasil rapat pembentukan panitia Festival Budaya yang dinilai mengubah rangkaian tradisi Ma’acia.
Rapat tersebut digelar pada 10 Agustus 2026 dan dihadiri unsur Forkopimda Buton serta Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tenggara, Dr. M. Ridwan Badallah, S.Pd., M.M.
Salah satu keputusan yang menjadi sorotan adalah ditiadakannya kegiatan malam dalam rangkaian acara. Bagi masyarakat Burangasi, kegiatan tersebut dinilai bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Pemuda dan mahasiswa Burangasi, Jumadun dan Eko Saputra, menilai penghapusan kegiatan malam berpotensi memutus keberlangsungan tradisi Ma’acia. Mereka juga menduga adanya intervensi pihak luar non-etnis Burangasi yang dapat mengikis identitas asli perayaan tersebut.
Menurut mereka, secara historis Ma’acia dilaksanakan selama 7 hari 7 malam, dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat.
Kekhawatiran yang sama disampaikan Mahmud Hastu, perwakilan pemuda dan mahasiswa Burangasi. Ia menilai kegiatan malam memiliki peran penting dalam memperkenalkan budaya kepada generasi muda, terutama melalui perlombaan dan pementasan tarian adat khas Burangasi.
“Jika kegiatan malam ini ditiadakan, ciri khas dan identitas budaya kita akan hilang. Generasi penerus tidak akan lagi mengenali warisan leluhurnya sendiri,” ujar Mahamud dalam wawancaranya, minggu (16/8/26).
Sementara itu, pemuda Burangasi lainnya, Apriandi, mempertanyakan alasan ditiadakannya rangkaian kegiatan yang selama ini melekat dengan Ma’acia. Menurutnya, pesta rakyat tersebut tidak hanya diisi dengan tarian tradisional, tetapi juga berbagai kegiatan olahraga dan perlombaan yang berlangsung selama sepekan.
Penolakan terhadap perubahan konsep tersebut, kata mereka, tidak hanya berasal dari kalangan pemuda dan mahasiswa. Sebagian masyarakat Burangasi juga menyatakan kekhawatiran bahwa format Festival Budaya yang baru justru secara perlahan dapat menggeser esensi Ma’acia.
Tokoh pemuda berinisial Sambar Baruga turut menyayangkan apabila festival tersebut dipaksakan menggantikan rangkaian kegiatan Ma’acia. Menurutnya, kemeriahan selama 7 hari 7 malam merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi masyarakat Burangasi dalam menyambut acara puncak Ma’acia.
Atas kekhawatiran tersebut, sejumlah elemen pemuda Burangasi mulai menyuarakan gerakan SAVEMAACIA. Gerakan ini menjadi bentuk penolakan terhadap kebijakan yang mereka nilai berpotensi mengurangi bahkan menghilangkan bagian penting dari warisan budaya Burangasi.
Mereka meminta agar pembentukan konsep Festival Budaya tetap memperhatikan sejarah, adat, serta keterlibatan masyarakat Burangasi sebagai pemilik tradisi Ma’acia.
Reporter : Dedi Darno
