BUTON UTARA, mediasebangsa.com _ Polemik keberadaan kapal pelingkar di Kulisusu Utara, Kabupaten Buton Utara, tengah ramai diperbincangkan. Kekhawatiran soal potensi putusnya rantai kehidupan nelayan lokal turut menjadi sorotan nelayan di Kulisusu Induk dan Kulisusu Selatan.
Anggapan yang berkembang di tengah masyarakat pun beragam. Menyikapi hal itu, tokoh masyarakat setempat, Ali, buka suara. Ia menegaskan perlu adanya klarifikasi duduk perkara agar tak menimbulkan kesalahpahaman di tingkat akar rumput.
Menurut Ali, persoalan utama dalam polemik ini adalah kejelasan status nelayan dan kepemilikan alat tangkap. Apakah mereka pemilik kapal atau pemilik rumpon.
“Sebenarnya nelayan Kulisusu Utara itu yang punya rumpon atau kapal? Ini harus dikasi terang. Karena yang dikategorikan nelayan besar adalah ABK kapal. Nah, kapal itu berasal dari mana, ABK yang terdaftar itu asal mana? Ini yang harus diluruskan,” ujar Ali, Selasa (29/09/2026).
Ali pun menilai, para pemilik rumpon di Kulisusu Utara tidak perlu khawatir berlebihan. Hal itu selama terjaga sinergi yang baik. Ia menyebut, kapal-kapal pelingkar tetap bisa beroperasi di sekitar rumpon milik nelayan setempat asalkan ada kesepakatan bersama.
“Mengenai nelayan rumpon, saya kira mereka tidak akan susah jika pikiran kita positif. Artinya, ada kapal yang selalu sandar di tempat peruntukannya untuk melingkar di rumpon nelayan yang ada di Kulisusu Utara, jika mereka maugkan rumponnya,” tuturnya.
Lebih lanjut, Ali mengingatkan publik agar tidak memandang persoalan ini secara kasat mata atau sebelah mata. Ia mempertanyakan keseimbangan mata pencaharian antarwilayah. Pasalnya, kecamatan tetangga seperti Kulisusu Induk dan Kulisusu Selatan juga punya populasi nelayan yang menggantungkan hidup dari laut.
Di penghujung keterangannya, Ali mengungkapkan pihaknya telah menghimpun sejumlah aspirasi dari komunitas pedagang ikan keliling yang biasa dikenal papa lele. Curahan hati para pedagang itu mencakup kendala mulai dari proses bongkar muat, jalur penyaluran ikan, hingga sistem pemasaran di tingkat lokal.
“Saya tadi dipanggil komunitas penjual keliling. Kami sudah mengantongi poin-poin curhatan mereka terkait proses bongkar muat dan penyaluran ikan hingga pemasaran. Ada saatnya barang ini dibongkar,” pungkas Ali.
Pewarta : Dedi Darno



Tinggalkan Balasan