KABAENA, Mediasebangsa.com — Bagi warga pesisir Pulau Kabaena, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, ada satu peristiwa tahunan yang selalu dinantikan: musim ubur-ubur. Periode ini berlangsung sekitar Agustus hingga Desember setiap tahun, dan dampaknya langsung terasa hingga ke kampung-kampung.

Dan tahun ini, momen itu datang tepat waktu. Pelambatan ekonomi akibat kebijakan efisiensi anggaran terasa di banyak daerah. Namun, justru di tengah situasi itu, kedatangan ubur-ubur memainkan peran sebagai penggerak ekonomi dadakan bagi masyarakat pesisir, khususnya di Kecamatan Kabaena Timur.

Begitu musim dimulai, wajah pesisir berubah total. Perahu nelayan mulai sibuk sejak subuh.

Menariknya, mereka bukan hanya warga setempat kapal-kapal dari Buton Tengah, Muna, hingga Muna Barat rela melaut jauh ke perairan Kabaena demi berburu hewan laut berlendir ini. Bagi warga, ini bukan sekadar musim melaut. Ini musim berburu rezeki.

Hasil tangkapan langsung dibawa ke puluhan bangunan pengolahan yang berdiri sepanjang garis pantai.

Pusat-pusat inilah yang menjadi jantung aktivitas masyarakat selama musim berlangsung. Jenis yang paling banyak diolah adalah ubur-ubur merah (Crambione mastigophora) komoditas bernilai jual tinggi yang pemasarannya menjangkau luar daerah, bahkan pasar ekspor.

Geliat pengolahan ini juga mengundang pelaku usaha dari luar pulau. Ada investor dari Surabaya yang turut menggarap bisnis ini, bahkan dibantu tenaga ahli asal China untuk menjaga standar kualitas proses pengolahan sebelum komoditas dikirim ke pasar.

Yang membuat musim ini istimewa, manfaatnya tidak berhenti di tangan nelayan. Masyarakat umum pun kebagian rezekinya. Ada yang bekerja mengangkut hasil tangkapan, ada yang terlibat langsung dalam proses pengolahan, ada pula yang mendapat penghasilan dari penjualan garam dan tawas sebagai bahan pengolahan, hingga pekerjaan pengemasan.

Di luar halaman gudang, roda ekonomi kecil ikut berputar. Warung makan kebanjiran pelanggan, penjual jajanan laris manis, dan kebutuhan harian nelayan serta buruh pengolahan menciptakan transaksi demi transaksi.

Dengan skema seperti ini, wajar jika jumlah orang yang meraup penghasilan dari musim ubur-ubur ditaksir mencapai seribuan orang, baik yang terlibat langsung maupun tidak langsung.

Di titik pengolahan, transaksi jual beli memakai satuan basket. Berdasarkan informasi di lapangan, kaki atau bagian ekor ubur-ubur dibanderol sekitar Rp50 ribu per basket, sedangkan bagian kepala sekitar Rp10 ribu per basket.

Berat satu basket diperkirakan sekitar 35 kilogram, meski angka ini bisa berbeda tergantung ukuran dan sistem timbang masing-masing gudang.

Dengan volume tangkapan yang masuk dalam jumlah besar, tidak berlebihan jika perputaran uang selama musim ini diduga menembus ratusan juta rupiah dalam satu malam.

Meski demikian, angka tersebut baru sebatas dugaan dari observasi lapangan dan masih memerlukan pendataan resmi untuk mendapatkan angka yang pasti.

Bagi warga Kabaena Timur, musim ubur-ubur punya makna yang lebih dalam. Di kala lapangan kerja langka dan ekonomi daerah tertekan, laut kembali menyelamatkan.

Komoditas yang dulu mungkin dipandang biasa, kini terbukti menggerakkan rantai ekonomi dari pesisir hingga daratan nelayan membawa pulang penghasilan, buruh pengolahan menerima upah, pemilik perahu mendapat pemasukan, pedagang dan warung makan meraup keuntungan, serta pemasok bahan baku menemukan pasar baru. Satu komoditas, banyak perut yang kenyang.

Karena itu, musim ubur-ubur sepatutnya dipandang bukan sekadar tradisi menangkap hasil laut, melainkan potensi ekonomi nyata masyarakat pesisir Kabaena yang layak dikelola dengan serius.

Namun, di balik gemerlapnya, pelestarian sumber daya laut tetap menjadi pekerjaan rumah. Kebersihan pantai, keselamatan nelayan dan pekerja, serta tata kelola pengolahan yang baik harus dijaga bersama agar berkah musim ini tidak habis dinikmati tahun ini saja, melainkan tetap dirasakan pada musim-musim mendatang.

Ketika ubur-ubur datang, laut Kabaena seolah membukakan pintu rezekinya. Dan dari hasil laut itulah, ekonomi warga kembali menggeliat, dapur-dapur rumah pun kembali mengepul.

(SN) oleh : Dedi Darno